Hujan dan Juni

Hai Juni. Sudah Juni saja. Dan, dua bulan terlewat begitu saja, tak tertuliskan, tak terkisahkan, tapi semesta tau, dan saya tahu itu. Juni yang sedang repot-repotnya. Para sekumpulan PNS sudah mulai membuat laporan semesterannya, karena tak terasa sudah akan berakhir. Tak berbeda dengan para Bapak dan Ibu guru dan dosen yang ingin segera merampungan evaluasi ujian siswa dan mahasiswanya sebelum lebaran tak terasa semakin dekat. Pegawai – pegawai BUMN pun mulai disibukan untuk mempoles kembali kinerjanya masing – masing, karena itu akan berguna bagi kondisi ekonominya mendatang dan jika beruntung juga berguna untuk karirnya.

Hai Juni. Juni, kau kali ini sedang suka hujan. Sejak warga negeri ini yang masih berhubungan dengan instansi negara berhuyung-huyung untuk mengupacarakan kelahiran pancasila, kau pun memberinya hujan. Hujan di bulan kelahirannya Pancasila, Hujan bulan Juni. Begitu pula berjalan di hari berikutnya. Hujan sebelum berangkat tarawih, hujan pada saat tarawih. Hujan kembali berlanjut saat sahur dan juga setelahnya ketika mata dipaksa untuk menemani kaki beranjak ke masjid. Dan hujan pun berlanjut meski fajar sudah menyingsing.

Hai Juni. Sudahkah kalian mulai #TerSapardi seperti yang disampaikan oleh kawanku di Bandung sana? Hujan itu sangat dekat dengan Tuhan. Paling tidak jika saya ternyata jauh dari Tuhan, melalui hujan saya dapat bersinggungan dengan malaikatnya Tuhan yang tak akan pernah bisa mengacuhkan-Nya. Di setiap hujan ada tanah yang terguyur yang mengingatkan saya kembali akan bebauan tanah yang baru saja dibasahi air hujan. Baunya tanah, iya memang. Tapi coba saja, ada yang lain dari bebauan tanah yang diguyur hujan. Apalagi saat kemarau sudah lama bersama dan hujan datang, bebauannya itu indah.

Hujan datang, kau tahu?

Jangan kau maki

Jangan kau lari

Jangan kau lupa

karena indah, bila kau tahu

Hai Juni. Mungkin kalian sudah #TerDjoko seperti yang dikatan oleh pak Djoko si dukun aliran pawang hujan yang tiap musim hajatan akan banyak orderan? Karena hujan itu terkadang mengingatkan. Mengingatkan saya yang sering tidak menginginkan apa yang akan, sedang, sudah terjadi (hujan) saat itu tanpa tahu apa yang dibawanya itu. Karena saat hujan, terkadang, sebagian orang begitu menginginkannya, sebagian lagi tidak, bahkan menghujat. Dan, hujan tetap saja membasahi. Saya lupa, terkadang. Dan hujan mengingatkan. Saya kabur, biasanya. Dan hujan menghentikan. Saya juga kesal, kala itu. Dan hujan membuatku diam.

Hujan tiba, kau tahu?

Kau basah?

Kau kering?
Kau dimana?

saat hujan tiba

 Hai Juni. Saya #TerDamono seperti yang dipresentasikan oleh pak Damono, kepala koperasi karyawan saat mengikuti beauty contest saat pelelangan pengadaan jasa pawang hujan selama lima tahun ke depan. Hujan itu Dam(n)ono. Saya mencoba lari sejauh mungkin saat saya tahu hujan akan datang. Saya berlari sejauh mungkin secepat yang saya mampu sebelum hujan tiba. Tetap saja saya basah dan kembali diingatkan oleh bebauan khas tanah yang diguyur hujan ini. Kenapa langit menangis? Apakah kau – langit – begitu berdosa kepada Penciptamu sehingga kau menangis? Padahal setahuku, kau memberi saya yang terbaik, keindahan. Menampakkan lukisan Penciptamu yang selalu lebih indah. Kau menunjukkan saya biru, biru itu langit. Kenapa kau – langit – menangis? Apakah kau begitu berduka menyaksikan saya dalam kerugian selama ini karena terlalu acuh dengan Tuhanmu, Tuhanku juga? Kenapa kau – langit – menangis? Apakah kau mencoba mengingatkanku bahwa waktu berlalu begitu cepat melebihi peralihan kantuk ke tidur, lebih dari kedipan mata ketika mata terbuka rambutkku tampak sudah menua?

Hujan berlalu, kau tahu?
Jangan kau hujat

Jangan kau keramati

Jangan kau sesali
Andai saja kau tak tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published.