Review – Semua Ikan di Langit

 

Semua ikan di langit. Bayangkan, ada ikan di langit dan ternyata banyak. Kemudian burung pada dimana kalau ikan saja di langit?

Judul buku yang satu ini sangat menarik. Penglihatan dan pendengaran saya yang terbiasa dengan benda – benda langit (makhluk langit) seperti burung, pesawat, bintang, awan, bidadari, Tuhan, kali ini diperkenalkan dengan sesuatu yang baru, yaitu ikan.  Semua ikan di langit.

Tentang Buku

Buku ini berjudul “Semua Ikan di Langit”. Dengan ilustrasi sampul didominasi warna hijau toscha, ditengahi oleh warna merah dan sedikit hitam. Judul dituliskan dalam warna putih tepat di atas ilustrasi ikan – ikan yang terbang bersama bus kota dan seseorang. Buku ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Penulis dengan nama yang keren.

Buku ini diterbitkan oleh Grasindo, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, di Jakarta. Cetakan pertama terbit di bulan Februari 2017. Buku ini disunting oleh Septi Ws. Desainer sampul oleh Tim Desain Broccoli. Sementara itu untuk ilustrasi gambar yang ada di dalam buku merupakan buatan dari si penulisnya sendiri. Buku ini berisikan 259 halaman yang bisa kita jelajahi saat membacanya.

Satu lagi hal yang menarik tentang buku Semua Ikan di Langit ini, karya Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie ini merupakan pemenang pertama, satu – satunya pemenang dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Dari total 317 naskah yang mengikuti sayembara tersebut hanya ditetapkan satu pemenangnya yaitu Semua Ikan di Langit dengan naskah lainnya sebagai unggulan.

Semua Ikan di Langit dtulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata – rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah – naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang – pemenang di bawahnya” – Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016

Semua Ikan di Langit

Di awal cerita saya disuguhkan dengan bukaan tulisan yang memancing suatu pernyataan retorik namun di-iyakan  oleh saya sendiri. “oh gituu, hahaha, ya ya ya, bisa – bisa”. Hal ini membuat saya menjadi semakin penasaran dan berharap besar akan disambut dengan sesuatu yang lebih mengejutkan di halaman – halaman selanjutnya.

Saya mendapat pinjaman buku ini dari sesorang. Dari lembar post it yang diselipkannya sebagai pembatas bacaan, dia berhenti di halaman 13. Mungkin tidak sempat lagi, mungkin agar saya melanjutkannya, atau juga karena hingga halaman 13 ini dia belum menemukan sesuatu, atau malah dibingungkan sesuatu.

Di tigabelasan halaman di awal – awal buku ini memang mengejutkan. Tokoh yang dimunculkan sangatlah menarik. Sesuatu yang sangat biasa di kehidupan kita, namun cukup tidak biasa untuk menjadi tokoh. Di awal – awal ini menimbulkan yang mengherankan, “loh”, “ini apaa? tapi iya juga si”, “assemm, aku musti cari tahu ini kenapa”. Dan saya tidak berhenti di halaman 13.

Tokoh

Cerita di Semua Ikan di Langit sangat biasa dengan kehidupan sehari – hari. Tokoh – tokohnya biasa kita jumpai. Ada ikan, judulnya saja Semua Ikan di Langit, pasti ada. “Ikan? biasa kan?, okelah apa yang ikan ini bawa”. Dalam buku ini disebutkan sebagai ikan julung – julung. Lalu ada bus kota, ada kecoa, kucing, ada pohon, manusia – manusia dan seseorang yang dipanggil bus kota sebaga “Beliau”.

Semua tokohnya biasa, bisa saya jumpai sehari-hari, namun membawa saya dalam kisah yang belum pernah saya terdengarkan dan terlihatkan dan saya meng-iyakan kisah tokoh-tokoh ini. Dalam buku ini si penulis bercerita dalam dirinya sebagai bis kota.

Alur Cerita

Buku ini memiliki alur yang sangat tidak biasa. Garis waktu yang dijelajahi tokoh ini menceritakannya dalam wilayah waktunya yang sekarang, kemudian dibawanya lagi hingga beberapa puluh tahun ke belakang dan kemudian kisah itu berlanjut ke suatu ruang yang tak berdimensi waktu. Berdimensi waktu si, tapi seakan – akan dimensi waktu itu ada yang mengaturnya. Seperti ada Tuhan yang mengatur dimensi waktu itu.

Setting

Semua Ikan di Langit ini membawa tokoh – tokohnya terbang menjelajah langit. Kemudian di lain waktu singgah ke baratan, ke bumi, ke perkotaan tempat dimana bis seharusnya berada. Adakalanya mereka beranjak ke tengah lautan, menerobos langit menuju angkasa yang tak tahu entah itu dimana. Ceritanya juga berkisah di sebuah kamar, kamar yang sangat berantakan. Dan juga di dalam bis kota.

Ikan Ikan

Buku ini bercerita akan perjalanan sebuah bis kota yang dibawanya terbang oleh sekelompok ikan julung – julung. Bis kota ini bersama dengan seorang anak yang bis kota itu memanggilnya “Beliau”, karena si bis kota memang tidak tahu nama “Beliau” sebenarnya. Bis kota ini memiliki cara berkomunikasi dengan makhluk lain yang keren dari buku ini. Bis kota dapat bercerita, saling sapa dan tahu tentang makhluk lain dari apa yang menyentuh dirinya. Dalam bis kota itu juga ada kecoa yang ikut terbawa perjalanan.

Seseorang yang bis kota memanggilnya “Beliau” mempunya sifat – sifat yang berketuhanan. Dalam membaca buku ini saya dibawanya untuk menerka siapa sebenarnya “beliau” ini. Seperti Tuhan. Dalam kisahnya ini terdapat sesuatu yang logis. Semua permasalahan yang diceritakan sangat sehari – hari tapi Ziggy membawakannya dengan sesuatu yang oh gitu.

Buku ini menceritakan sesuatu yang manusiawi. Sesuatu akan tidak suka dengan sesuatu yang lain jika sesuatu yang lain itu menyakiti apa yang sesuatu cintai. Bukan karena sesuatu membenci sesuatu yang lain, tapi lebih karena hal logis, karena sesuatu yang lain itu menyakiti apa sangat dicintai oleh sesuatu. Dan mungkin seperti itu salah satu alasan Tuhan memusnahkan suatu kaum. Tuhan tahu dari makhluknya itu ada yang baik dan juga jahat, tapi Tuhan menghukum mereka yang jahat, yang menyakiti apa yang dicintai oleh Tuhan.

Hal – hal mendasar sepert itu yang saya dapat dari buku ini. Karena memang dalan kesehariaan kita sebagai manusia itu lain. Kita terlalu lebih membenci orang ketimbang tidak menyukai apa yang orang itu lakukan.

Tentang Penulis

Namanya Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie. Dia perempuan. Kalau tidak keliru dia adalah jebolan mahasiswa hukum UI. Saya tidak tahu banyak. Akun twitternya : @monamiCROISSANT. Satu lagi, menurutku mbak Ziggy tidak suka dengan tokek.

Kutipan – Kutipan dalam Buku

Ini adalah ingatan pertamaku : ikan terbang dan bintang. Dan selama bertahun – tahun, aku percaya bahwa ketika seseorang makan ikan, ia juga memakan bintang……..
Inilah kenapa perut orang jadi gendut kalau makan terlalu banyak : karena mereka perlahan – lahan menjadi planet, dimulai dari perut yang menyimpan begitu banyak konstelasi bintang“–halaman awal

“…Ucapan Tuhan itu membingungkan- seperti dijelaskan pelajaran filsafat oleh profesor, sementara kita masih belajar bicara. Makannya Dia berikan kita otak bukan? Kita kan punya otak yang dimaksudkan Dia untuk digunakan berfikir; jadi kalau kita memikirkan Dia, justru saya rasa, itu adalah bentuk pujian dan syukur yang jauh lebih baik daripada menerima ini-itu secara bulat-bulat“- hal 120

Tapi menurut saya, kalau Tuhan mau membuat sesuatu dengan tidak sempurna, Dia bisa saja. Dia kan bisa melakukan segala hal; mungkin saja membuat sesuatu dengan begitu sempurna, mungkin saja membuat sesuatu dengan tidak sempurna. Masalahnya kan manusia saja yang melihatnya dengan cara berbeda, membangun opini mereka sendiri tentang apa yang sempurna dan tidak sempurna..”hal 120

Cahaya itu pun diusir. Heheheh….Dia diusir dari sisi Beliau, dan Beliau tidak pernah mau memandang cahaya itu lagi. hehehe….bukan karena cahaya itu tidak mencintai Beliau, tetapi karena cahaya itu begitu mencintai Beliau, hingga ia tidak bisa mencintai apa pun lagi yang lain. heheheh…
Beliau menciptakan manusia dengan hati yang besar supaya bisa mencintai banyak, banyak hal…
Ah, bus yang baik.. heheheh..yang lebih penting daripada mencintai Beliau adalah mencintai segala hal yang Beliau cintai.“- hal 194

 

Mungkin Senja, Itu.

Mungkin itu senja

yang mengantarakan mentari ke horizon

bersama kemuning awan yang membuat sipit

menutupi silau

membuatnya tersentuh oleh mata tak berbusana

 

Mungkin saja senja

yang mengajak burung – burung beranjak

menghiraukan mangsa yang sudah diincarnya

untuk pulang

untuk segala hal yang yang tak tergantikan

 

Mungkin bukan senja

yang membuat biru langit lalu menghilang

karna laut memang tak lagi biru

untuk dilukiskan

meski tanpa kuas, tanpa tangan

 

Mungkin semakin senja

yang terasa menggerogoti waktu kita

karna senja memang pasti berakhir

seperti waktu

yang juga termakan waktu

 

Mungkin kemudian senja

tak lagi menginginkan senjanya

ketika senjanya tak bisa dinikmatinya

layaknya angin

yang selalu menyentuhnya dikala senja

 

Mungkin tak lagi mungkin itu senja

setelah gelap mengantarkannya

menghantarkan lelah yang berakhir waktunya

untuk mentari

yang mulai bersinar kembali

 

_belum senja, July.

Bosscha – Indonesia

Observatorium Bosscha

Lembang, Jawa Barat, Indonesia

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/35095003585/in/album-72157682664973400/

Teleskop Zeiss

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/34251343154/in/album-72157682664973400/

KAR Bosscha, 1923

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/34251345044/in/album-72157682664973400/

Bamberg

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/35095010115/in/album-72157682664973400/

Souvenir

 

Jadwal Kunjungan Observatorium Bosscha
Open : Selasa – Jumat (hanya untuk rombongan/instansi/sekolah/organisasi)
Open : Sabtu (hanya untuk kunjungan keluarga/perorangan)

 

Referensi :

https://bosscha.itb.ac.id/id/index.php/jadwal-kunjungan/

Hujan dan Juni

Hai Juni. Sudah Juni saja. Dan, dua bulan terlewat begitu saja, tak tertuliskan, tak terkisahkan, tapi semesta tau, dan saya tahu itu. Juni yang sedang repot-repotnya. Para sekumpulan PNS sudah mulai membuat laporan semesterannya, karena tak terasa sudah akan berakhir. Tak berbeda dengan para Bapak dan Ibu guru dan dosen yang ingin segera merampungan evaluasi ujian siswa dan mahasiswanya sebelum lebaran tak terasa semakin dekat. Pegawai – pegawai BUMN pun mulai disibukan untuk mempoles kembali kinerjanya masing – masing, karena itu akan berguna bagi kondisi ekonominya mendatang dan jika beruntung juga berguna untuk karirnya.

Hai Juni. Juni, kau kali ini sedang suka hujan. Sejak warga negeri ini yang masih berhubungan dengan instansi negara berhuyung-huyung untuk mengupacarakan kelahiran pancasila, kau pun memberinya hujan. Hujan di bulan kelahirannya Pancasila, Hujan bulan Juni. Begitu pula berjalan di hari berikutnya. Hujan sebelum berangkat tarawih, hujan pada saat tarawih. Hujan kembali berlanjut saat sahur dan juga setelahnya ketika mata dipaksa untuk menemani kaki beranjak ke masjid. Dan hujan pun berlanjut meski fajar sudah menyingsing.

Hai Juni. Sudahkah kalian mulai #TerSapardi seperti yang disampaikan oleh kawanku di Bandung sana? Hujan itu sangat dekat dengan Tuhan. Paling tidak jika saya ternyata jauh dari Tuhan, melalui hujan saya dapat bersinggungan dengan malaikatnya Tuhan yang tak akan pernah bisa mengacuhkan-Nya. Di setiap hujan ada tanah yang terguyur yang mengingatkan saya kembali akan bebauan tanah yang baru saja dibasahi air hujan. Baunya tanah, iya memang. Tapi coba saja, ada yang lain dari bebauan tanah yang diguyur hujan. Apalagi saat kemarau sudah lama bersama dan hujan datang, bebauannya itu indah.

Hujan datang, kau tahu?

Jangan kau maki

Jangan kau lari

Jangan kau lupa

karena indah, bila kau tahu

Hai Juni. Mungkin kalian sudah #TerDjoko seperti yang dikatan oleh pak Djoko si dukun aliran pawang hujan yang tiap musim hajatan akan banyak orderan? Karena hujan itu terkadang mengingatkan. Mengingatkan saya yang sering tidak menginginkan apa yang akan, sedang, sudah terjadi (hujan) saat itu tanpa tahu apa yang dibawanya itu. Karena saat hujan, terkadang, sebagian orang begitu menginginkannya, sebagian lagi tidak, bahkan menghujat. Dan, hujan tetap saja membasahi. Saya lupa, terkadang. Dan hujan mengingatkan. Saya kabur, biasanya. Dan hujan menghentikan. Saya juga kesal, kala itu. Dan hujan membuatku diam.

Hujan tiba, kau tahu?

Kau basah?

Kau kering?
Kau dimana?

saat hujan tiba

 Hai Juni. Saya #TerDamono seperti yang dipresentasikan oleh pak Damono, kepala koperasi karyawan saat mengikuti beauty contest saat pelelangan pengadaan jasa pawang hujan selama lima tahun ke depan. Hujan itu Dam(n)ono. Saya mencoba lari sejauh mungkin saat saya tahu hujan akan datang. Saya berlari sejauh mungkin secepat yang saya mampu sebelum hujan tiba. Tetap saja saya basah dan kembali diingatkan oleh bebauan khas tanah yang diguyur hujan ini. Kenapa langit menangis? Apakah kau – langit – begitu berdosa kepada Penciptamu sehingga kau menangis? Padahal setahuku, kau memberi saya yang terbaik, keindahan. Menampakkan lukisan Penciptamu yang selalu lebih indah. Kau menunjukkan saya biru, biru itu langit. Kenapa kau – langit – menangis? Apakah kau begitu berduka menyaksikan saya dalam kerugian selama ini karena terlalu acuh dengan Tuhanmu, Tuhanku juga? Kenapa kau – langit – menangis? Apakah kau mencoba mengingatkanku bahwa waktu berlalu begitu cepat melebihi peralihan kantuk ke tidur, lebih dari kedipan mata ketika mata terbuka rambutkku tampak sudah menua?

Hujan berlalu, kau tahu?
Jangan kau hujat

Jangan kau keramati

Jangan kau sesali
Andai saja kau tak tahu

Kelas Inspirasi SDN Sungai Lulut 2

Salam empat jari! Ini bukan suatu simbol ajakan yang mengkampanyekan sebuah ajang politik yang jika dibahas tidak akan ada habisnya, sebagaimana membahas urusan agama. Salam empat jari ini saya dapatkan pada hari Kamis lalu, tepatnya dua hari setelah bulan Januari berakhir. Salam dari Kelas Inspirasi, Kelas Inspirasi #2 Banjarmasin.

“hey, kamu, dapat salam empat jari”, dia malah mlongo, “iyaa kamu…”

“Membangun mimpi anak Indonesia….,begitu kan?”, dengan wajah polosnya (YFI : dia itu adalah teman imajiner yang sedang saya ajak mengobrol sekarang)

Nah itulah, salam empat jari kelas inspirasi yang merupakan susunan dari empat kata (mbobot).  Jadi nanti tidak kaget lagi jika di kelas inspirasi kemudian menjulurkan lengan ke depan dengan menunjukan 4 jari seraya bersemangat menyahut “Membangun Mimpi Anak Indonesia”.

Apa itu KI?

Kelas inspirasi itu, wadah, media, konduktor untuk kalangan penggiat pfrofesi negeri ini untuk ikut berkontribusi – melalui mengajar sehari – membangun mimpi generasi negeri ini. KI itu memberikan tempat dan kesempatan untuk mereka para profesional mengenalkan seperti apa profesi mereka. Mengenalkan sesuatu yang baru, mungkin nantinya itu akan menjadi benih untuk mimpi baru bagi mereka para penerus negeri ini. KI itu memberi kesempatan mengajar sehari agar (diharapkan) dapat menginspirasi seumur hidup, baik untuk anak-anak negeri maupun untuk para relawan.

Jika merujuk dari website resmi kelas inspirasi, Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD, yaitu pada Hari Inspirasi. Relawan pengajar berinteraksi di sekolah untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja dan memberi motivasi untuk meraih cita-cita bagi para siswa. Interaksi relawan pengajar dengan warga sekolah dilakukan untuk membuka ruang komunikasi dan kolaborasi antar keduanya melalui pengalaman mengunjungi, dan mengajar, dan berinteraksi selama hari inspirasi termasuk masa persiapannya.

Kelas Inspirasi “Membangun Mimpi Anak Indonesia”.

fb KI

Twiter

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32086468053/in/dateposted-public/

Story Begins

“hey, kamu lagi ngapain?”

“ini hloo, registrasi KI aku, katanya kamu mau ikutan”

“ehh, mana?…gak tau aku”

“heeemmm, kamu udah aku daftarin juga”, dia kabur bersama senyum yang membekaskan lesung di pipinya

Kabar diadakannya kelas inspirasi yang kedua di Banjarmasin didapatkan dari instagram, dan saat saya cek langsung ke akun IG KI Banjarmasin, itu benar. Dan masih dalam sesi rekrutmen relawan, baik itu untuk inspirator , fotografer dan videografer.

Tak lama berselang, masuklah sebuah email konfirmasi bagi pendaftar yang terpilih untuk berpartisipasi di kelas inspirasi Banjarmasin. Memastikan kembali kesediaan para relawan baik yang terpilih sebagai relawan inspirator, fotografer maupun videografer. Memberikan konfirmasi akan kehadirannya di Briefing acara dan juga pada Hari Inspirasi tersebut. Meluangkan waktu satu harinya untuk bersedia cuti dari rutinitas harian.

Sebelum Hari Inspirasi, dilakukan briefing antara panitia lokal kelas inspirasi banjarmasin bersama relawan fasilitator dengan para relawan inspirator, fotografer dan videografer. Pada acara tersebut semua participant diberikan beberapa gambaran tentang KI dan masukan beberapa metode untuk menguasai kondisi di dalam kelas. Dalam acara tersebut para relawan juga mulai berkumpul dengan timnya masing – masing -kelompok per SD. Begitu juga dengan kelompok untuk SDN  Sungai Lulut 2, SD dimana saya berada di hari inspirasi.

SDN Sungai Lulut 2

Kelas inspirasi #2 Banjarmasin ini menyasar beberapa SD di Banjarmasin, salah satunya merupakan SDN Sungai Lulut 2. Sekolah dasar yang lokasinya cukup membuat ramai diperbincangkan di grup Whatsapp para relawan SDN Sungai Lulut 2. Karena baik di Banjarmasin dan juga Banjarbaru memiliki sekolah dasar dengan nama yang sama, yang pasti lokasinya berbeda. Satunya dibawah pemerintahan kota Banjarmasin, satu yang lainnya menginduk pada dinas pendidikan kabupaten Banjar. Nomor pokok sekolah nasional (NPSN) -nya juga berbeda.

Sekolah yang kami sasar itu adalah SDN Sungai Lulut 2 yang menginduk pada dinas pendidikan kabupaten banjar. Sekolah yang beralamat di Jl. Martapura Lama Km 6,2 RT 4 Sungai Lulut di kecamatan Sungai Tabuk. Sekolah ini berada di sekitaran area pasar dengan akses jalan yang (hanya) cukup untuk berpapasan 2 mobil dengan ngepres. Akses jalan dua jalur berlawanan yang tak lebih dari 2 mobil berjajar. Di sekitaran sekolah merupakan area pasar tradisional. Jadi (sangat) cukup ramai saat hendak menuju sekolah dasar tersebut, di pagi hari dan pasar beroperasi. Sekolah ini berjarak kurang lebih 100 meter masuk dari jalan area pasar tradisional.

Sekolah Dasar Negeri Sungai Lulut 2 ini seperti sekolah dasar pada umumnya yang terdiri dari kelas 1 hingga kelas enam, namun terbagi menjadi 8 kelas. Kelas 1A, 1B, kelas 2, 3, 4 dan kelas 5A, 5B serta kelas 6. Bangunan gedung sekolah seperti sekolah di sekitarran kabupaten banjar lainnya yang masih berpanggung dari bahan kayu ulin. Pagar bangunan hingga lantai yang terbuat dari kayu. Namun ada satu kelas yang sudah beralaskan dari lantai keramik, yaitu kelas 6 dan cukup dijaga kebersihannya dengan melepas alas kaki saat memasuki ruang kelas. Ada toilet, kantin dalam sekolah juga ada.

Tim Relawan SDN Sungai Lulut 2

Ini dia susunan kesebelasan yang menjadi starting line up di Hari Inspirasi nanti :

Relawan inspirator :

  1. Akhmad Fauzi, berumur, Bank Kalsel
  2. Amalia Rezeki, lebih tua dari saya, Dosen dan juga penggiat kelangsungan Bekantan
  3. Anita Shalehah, 24 tahun, Presenter Duta TV
  4. Ario Dwi, 24 tahun, staff Udiklat PLN
  5. Delsika Pramata Sari, 24 tahun, Dosen
  6. Rizky Ramadhani, 27 tahun, Penyuluh Pertanian

Relawan Fotografer & Videografer :

  1. Erika Kurnia, 24 tahun, Reporter (tukang jalan-jalan juga)
  2. Yudi Rajo, 39 tahun, Spv. Community Relation at Adaro Indonesia

Relawan Fasilitator :

  1. Akhmad Ripandi, paling muda, Mahasiswa
  2. Cindy (nama lengkapnya kurang tau, udah stalking belum nemu juga), lebih tua dari Pandi, Fresh Graduate
  3. Eko Porwo Santoso, masih mudaan Pandi, Staff Operational Hasnur Center

 

Ingin lebih tahu tentang sosok kesebelasan ini? Akan diulas disini.

 

Persiapan

Pelaksanaan persiapan untuk Hari Inspirasi dilakukan mulai di awal Januari. Relawan fasilitator yang mengawal persiapan kami untuk segala sesuatu halnya. Pada masa ini juga timbul masalah, dimana semakin dekat dengan hari inspirasi persiapan kami belum juga menunjukan perkembangan yang signifikan. Konsep acara yang nantinya akan kami bawa di SDN Sungai Lulut 2 belum menjadi keputusan yang final dalam tim.

Beberapa teman relawan sangat aktif dengan persiapan yang memang belum menunjukan kemajuan. Saling mengajukan usulan konsep acara baik itu dari fasilitator, relawan inspirator yang juga sebelumnya pernah ikut pada KI Banjarmasin yang pertama dan juga tambahan usulan dari rekan fotografer. Saya yang kurang aktif berinisiatif dalam grup sering ketinggalan topik sehingga harus menyimak recent pesan chat di grup yang sudah lebih dari 250an pesan (jangan ditiru ya yang kayak gini).

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32526905480/in/dateposted-public/

Di hari inspirasi nanti dilaksanakan acara pembukaan secara bersama-sama seluruh partisipasi relawan, guru dan juga siswa begitu juga dengan closing di akhir acara. Dari usulan para relawan yang juga beberapa ikut meninjau langsung lokasi dan kondisi sekolah disepakatilah untuk membuat beberapa penunjang untuk pelaksanaan pada Hari Inspirasi. Kami membuat spanduk bertemakan pohon impian yang disesain oleh relawan di tim kami, bukan saya. Spanduk tersebut akan dipasangkan di dinding sekolahan, ada dua spanduk panjang yang kami siapkan. Pada spanduk pohon impian itulah nantinya seluruh siswa – siswi di SDN Sungai Lulut 2 menempelkan cita-cita yang sudah mereka tulis pada daun impian.

Kami juga menyiapkan nametag untuk siswa dari kertas karton yang dibuat sedemikan rupa sehingga membentuk sebuah baju (saya harus belajar yang ini). Baju itu yang nanti dibagikan ke siswa untuk dituliskan nama mereka dan ditempel di seragam yang mereka kenakan. Kemudian ada lembar naskah proklamasi cita – cita yang disiapkan tim untuk seluruh siswa. Pada proklamasi cita-cita itu mereka menuliskan nama dan cita-cita mereka kelak degan juga membubuhkan tanda tangan. Naskah proklamasi itu kemudian dibacakan oleh masing – masing siswa (conditional) untuk selanjutnya mereka simpan untuk mengingatkan mereka akan apa yang dicita-citakannya. Dan ditutup dengan dibagikannya sebentuk toga (seperti di acara wisuda) yang terbuat dari buku tergulung yang dibungkus dengan kertas hitam berhiaskan rumbai emas (hiasan) dan di-tagline putih oleh selotip.

Selain itu semua, masing – masing inspirator akan membawa properti yang mereka siapkan untuk menceritakan akan profesinya kepada seluruh siswa di SDN Sungai Lulut 2 nantinya di Hari Inspirasi.

Hari Inspirasi

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32747660102/in/dateposted-public/

Hari inspirasi tiba…horeeee!

Mereka yang dari luar kota Banjarmasin, malahan dari luar pulau Kalimantan sudah mulai merapat di Banjarmasin sehari sebelumnya. Ada pak Yudi yang harus menempuh perjalanan lebih dari 5 jam sebelum sampai ke Banjarmasin. Juga gadis asal Jakarta yang untuk pertama kalinya menginjakan kakinya di tanah banua, Erika. Mereka berdua yang fotonya akan lebih sedikit dibandingkan dengan relawan yang lain karena mereka berdua yang nantinya akan sibuk merekan setiap event yang hadir di hari inspirasi. Kalau foto mereka banyak, bratii heemmm.

Semua persiapan siap, spanduk sudah terpasang di hari sebelumnya. Pukul 7 pagi, rekan – rekan relawan mulai berdatangan bersama dengan hilir siswa dan juga lalu lalang warga sekitar yang hendak ke pasar. Pelaksanan pembukaan acara dilakukan pada pukul 07.30 waktu setempat yang dibawaan oleh Anita sebagai pembawa acaranya. Sambutan salah seorang guru yang mewakili kepala sekolah membuka suara setelah sebelumnya menyanyikan lagu kebangsaan bersama – sama. Sambutan juga diberikan oleh Pak Fauzi sebagai perwakilan dari rekan relawan. Kemudian ada doa yang dilantunkan oleh Kak Eko agar acara di hari inspirasi itu dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dan ada ice breaking dari Kak Iki sebelum siswa kembali ke kelasnya masing – masing.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32086463583/in/dateposted-public/

Seluruh inspirator menyesuaikan kelasnya sebagaiman rundown kegiatan yang sudah dibuat oleh fasilitator. Setiap inspirator memiliki waktu kisaran 30 menit untuk membagikan cerita tentang profesia kepada siswa di setiap kelas. Kemudian rolling ke kelas yang lain sesuai urutan. Ada Kak Eko, Kak Cindy dan Kak Pandi yang selalu rajin mengitari kelas sebagai time keeper. Kak Eko menampakan dirinya di pintu kelas, inspirator yang sedang asik dengan siswanya di kelas otomatis akan menoleh seketika. Kode lima jari yang diberikan menandakan waktu untuk inspirator tersbut di kelasnya tinggal 5 menit lagi. Itu sangat berguna untuk inspirator agar tidak kehilangan klimaks dari materi yang disampaikannya.

Semua inspirator berhasil mendapat kesempatan untuk masuk di seluruh kelas, mulai dar kelas 1 sampai kelas 6. Lengkap dengan properti yang sudah mereka siapkan dan dibawa masing-masing. Para inspirator nampak bersemangat untuk menceritakan tentang profesinya. Ada kak Ikki, dari penyuluh pertanian yang sudah menyiapkan sekeranjang perlengkapan untuk belajar menanam dengan cara atau metode yang mungkin belum pernah dikenal oleh siswa-siswi di SDN Sungai Lulut 2 ini. Kak Ikki mengajarkan mereka tentang menanam menggunakan media bukan tanah, menggunakan media lain yang lebih sederhana. Dari hasil menanamnya ini, Kak ikki juga meninggalkan hasil penanaman dengan metode bukan tanah di kelas 5 dan kelas 6. Hasil karya yang dibuat mereka dibantu oleh Kak ikki ini diberi label pada wadahnya dengan nama-nama siswa di kelas tersebut. Sementara untuk kelas 1 dan 2 Kak ikki mengenalkan akan aneka buah dan sayuran kepada siswa-siswi.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32901175915/in/dateposted-public/

Relawan juga membawa beberapa atribut yang biasa digunakan dalam pekerjaannya, ada helm. Atribut itu yang dikenakannya saat akan menceritakan akan profesinya. Bukan hanya itu, siswa juga tidak mau kalah untuk ingin memakai atribut sebagaimana yang dipakai relawan, meski kebesara untuk ukuran badan mereka. Keceriaan seorang presenter TV,perempuan, cantik lagi – soalnya sewaktu saya di kelas, bocah-bocah selalu menanyakan mbk presenter yang cantik itu yang pakai baju hitam, seperti itu yang mereka tanyakan, kujawab saja, habis kakak nanti kakak yang cantik itu masuk– juga mengisi dan meramaikan kelas. Siswa – siswi diajak ikut andil sebagai presenter sungguhan, gelak tawa dari siswa yang lain pun pecah di dalam kelas. Kak Anita memang jago membawa semua audience-nya.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32747656032/in/dateposted-public/

Para dosen wanita, yang sudah terbiasa dengan siswa-siswi maha-nya pun tak mau kalah asik dalam menceritakan profesinya. Kak Amalia juga membawa seluruh siswanya untuk belajar dan bermain di luar kelas. Membentuk lingkaran semua mata siswa tertuju padanya. Kak Amalia yang juga salah seorang penggiat kelestarian bekantan – saya tahunya seperti itu – juga mengenalkan Bekantan kepada siswa. Kak Delsika yang juga satu profesi sebagai dosen juga tak mau kalah ramai di dalam kelas. Pembawaannya yang antusias dan juga memang muda banua membuat Kak Del dan siswanya saling membaur satu sama lain seperti sudah menjadi guru mereka sehari-hari.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32747657822/in/dateposted-public/

Peringai pak Fauzi yang humoris dan bawaannya seperti Aa Jimmy -menurut saya- memberi kesan baru akan dunia perbankan kepas siswa-siswi. Bapak pegawai bank kalsel yang sudah memiliki momongan ini berbagi cerita tentang menabung. Pak Fauzi juga membagikan beberapa coklat untuk siswa-siswinya yang aktif di dalam kelas – dan hal ini membuat saya kerepotan, karena pas giliran saya masuk, saya juga ditagih coklat sama siswa.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32901179065/in/dateposted-public/

Semua kegitan itu terekan oleh sepak terjang Kak Erika dan Pak Yudi. Tersimpan dalan kemasan foto dan juga video selama pelaksanaan. Mereka berdua silih berganti ke tiap – tiap kelas untuk mengabadikan setiap momen yang kelak akan mengingatkan tawa dan kenangan saat hari inspirasi telah berlalu. Pak Yudi yang seorang Antropolog yang bekerja di suatu perusahaan pertambangan di kalsel juga menyempatkan untuk menceritakan profesinya di beberapa kelas – dan juga membagi hadiah. Kak Erika, gadis ibukota yang sudah beberapa kali ikut andil dalam Kelas Inpirasi di beberapa daerah dari Aceh sampai Papua, juga tidak mau melewatkan momen yang nantinya akan dia ceritakan kembali. Dia juga berhasil mewawancari para inspirator –lain kali saya harus agak jual mahal.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32901142135/in/dateposted-public/

Setelah kegiatan ditutup dengan pemberian toga-togaan dan berfoto bersama dengan seluruh relawan, siswa-siswi dan juga jajaran para guru di SDN Sungai Lulut 2, para relawan berangsung meninggalkan sekolah untuk menghadiri refleksi di tempat lain. Saat refleksi perwakilan dari tim di tiap-tiap sekolahnya menceritakan apa yang telah dialaminya selaa hari inspirasi. Dan kami mengenal lebih banyak kawan lagi.

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32777432351/in/dateposted-public/

Dan semua keceriaan itu terekam oleh saya, oleh kami, oleh siswa, para guru dan juga semesta yang selalu menjadi saksi akan hidup kami. Acara yang mungkin hanya sehari ini tidaklah mudah untuk saya lupakan begitu saja dan semoga silaturahmi kami akan berlanjut.

Kelas Inspirasi, “Membangun Mimpi Anak Indonesia”

 

NB : Semua foto merupakan dokumentasi tim SDN Sungai Lulut 2

Jejak rekam....

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32777413401/in/dateposted-public/

 

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32777425451/in/dateposted-public/

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32901172955/in/dateposted-public/

 

https://www.flickr.com/photos/64213923@N04/32901174315/in/dateposted-public/

5 Menit dari Bali, Waktu Itu.

Yah ketinggalan lagi, sudah kelewat bulan Oktobernya.

Anggap saja hari ini masih di bulan Oktober, seperti itu. Hari dimana aku bertemu dengan seorang, dia laki-laki. Dan hari itu merupakan kali pertama aku bertemu dengannya. Memang tak lama pertemuan kami, hanya berkisar lima menit. Semalam kami berlalu dalam pesawat yang sama dari Bali pukul 19.10 dan sampai di Surabaya 19.15 waktu setempat. Namun selama lima menit itu kami sempat bertukar nomer telepon masing – masing.

Sebelum penerbangan malam itu, aku seperti biasa meluangkan bawaan dan menyisihkan tempat untuk membawa buku. Buku yang biasa menemani aku saat di pesawat, sendirian – meski sebenarnya ramai ada lebih dari 160 orang di dalamnya. Seperti penerbangan ku dari Surabaya dengan tujuan Bali. Selama perjalanan tersebut aku tidak terganggu dan juga tidak tidur seperti biasanya. Tempat duduk ku yang berada di belakang jeda satu kursi dari pintu darurat yang ada di tengah. Kalau tidak salah aku duduk di kursi nomor 34M. Untuk perjalanan yang tidak terburu – buru aku biasa memilih tempat duduk yang berada dekat jendela. Memandang langit dari bawah saja sangat kusuka, apalagi bisa memandangnya lebih tinggi lagi. Aku suka sekali.

Sebelum pilot meminta mbak-mbak flight attendant yang kurang aku perhatikan karena pramugaranya udah berumur, menginformasikan kembali kepada penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman, membiarkan penutup jendela tetap terbuka dan juga membiarkan meja portabel untuk menempatkan makan dan minum pada tempatnya dan memosisikan sandaran duduk pada posisi operasionalnya, aku sudah menyelesaikan buku tersebut. Tumben, tak biasanya. Dan selamat datang di Surabaya rek, waktu itu.

Buku itu berjudul Critical Eleven, karya luar biasa dari penulis yang memang tidak biasa, Ika Natassa. Dari buku itu aku baru tahu, bahwa saat bertransportasi menggunakan pesawat terbang, kita akan melewati sebelas menit waktu kritis yaitu 3 menit saat take off dan 8 menit sisanya saat landing. Karena diwaktu – waktu itu peristiwa kecelakaan pesawat sering terjadi.

Dan penerbangan semalam menjadi pembuktian. Saat take off berlangsung, dimana cahaya lampu penerangan mulai diredupkan dan para pembaca mulai menghidupkan lampu baca yang ada di atasnya sebagai salah satu prosedur saat pesawat akan memulai terbang. Aku sudah menyiapkan satu buku lagi untuk kubaca, tapi kututup. Kali ini aku memandangi awal mula jarum jam bergerak bertepatan dengan akselerasi pesawat untuk terbang. Kupastikan jarum jam itu hingga pesawat pada posisi yang stabil dimana lampu penerangan di dalam pesawat kembali dinyalakan dan tanda safety belt sudah dimatikan. Dan memang dikisaran 3 menit. Kalian bisa coba sendiri nanti.

Laki – laki itu menyapaku, dia menggunakan buku yang sedang kubaca sebagai bahan untuk memulai obrolan kecil denganku. Dan aku bukanlah perempuan yang menutup diri.

“haiii,,,”, sapanya dan terasa canggung, “J.K Rowling?”, lanjutnya.
“ohhh”, aku juga terkejut, “oh yaa, nama aliasnya, Roberth Galbraith, Career of Evil”, lanjutku sehingga terlihat pembaca buku beneran yang punya banyak referensi.
“kamu tahu juga?”, tungkasku
“sedikit, kawanku pernah bawa buku itu, tiga seri kan?”jawabnya yang mulai nampak tidak canggung lagi
“iya, hehe”
“aku Dwi”, sembari dia mengulurkan tangannya sebagai simbol perkenalan dan kubalas juga dengan uluran tangan dan kami saling mengguncangkan tangan dengan senyum kecil mengembang dan sedikit kernyitan di jidat.

Perkenalan ringan itu berlanjut hingga obrolan-obrolan yang ringan juga. Buku yang tadinya sudah kusiapkan untuk mengatasi kesendirian di dalam pesawat, buku Career of Evil karya dari Roberth Galbraith yang berkisah tentang seorang detektif yang dikirimi sebuah paket dan ternyata berisi sebuah potongan tungkai wanita muda, pun kuselipkan saja di saku tempat duduk dimana ada majalah Colours disana, inflight magazine milik Garuda. Aku harus meladeni obrolan dengan teman laki-laki yang baru kukenal itu.

Perbincangan kami sempat jeda bersamaan dengan berhentinya sepasang pramugari yang membawa meja dorong berisikan aneka minuman dan lunch box berhenti tepat di sisi lorong tempat kami duduk. Salah seorang pramugari yang di sisi belakang mengulurkan lunch box kepada Dwi setelah terlebih dahulu melayani penumpang tepat disebelahnya dan dia memberikan salah satunya untuk ku. Meja tempat meletakan makan sudah kubuka begitu juga yang berada di hadapan Dwi, aku lepaskan juga pengaitnya.

Aku memesan susu putih setelah pramugari yang sama memberikan lunch box  menawariku beberapa pilihan minuman yang ada. Dan juga air mineral dengan sedikit es. Dwi memesan kopi kepada si pramugari segera setelah aku menerima segelas susu putih. “aku suka kopi”, katanya lirih dengan memandangku. Aku diam sejenak, terpaku, agak sedikit melayang pikiranku dan kucoba menarik kembali sisi astral yang seperti akan keluar dari ragaku. Aku kembali, meresponya dengan senyum kecil, menggigitkan geraham depan bagian depan dan mengangguk kecil. “siapa yang nanya” pikirku sekilas. haha

Ternyata dia merendah tentang buku yang katanya milik temannya. Dia memliki banyak koleksi buku yang selalu ditargetkan untuk dibeli setiap bulannya yang otomatis harus dia selesaikan untuk dibaca. Meskipun sampai sekarang dia masih hutang banyak buku yang belum diselesaikan. Loh, ternyata obrolanku cukup jauh juga. Tak biasanya aku menyempatkan waktu untuk mengisi obrolan sejauh itu, dan laki – laki ini adalah orang yang baru saja aku kenal.

Kemudian suara dari pilot sejenak menghentikan obrolan kami, tanda sabuk pengaman sudah menyala kembali, para pramugari baik yang bertugas di bagian depan juga belakang kembali lalu lalang mengecek kondisi penumpang, posisi tempat duduk, penutup jendela dan juga meja tempat makan serta memastikan peralatan entertainment sudah mulai dimatikan. Aku pun mengajaknya memandang jam tangan masing – masing yang kami kenakan, untuk memastikan 8 menit kritis kedua saat landing sebelum akhirnya mengakhiri obrolan kami semalam. Dan berlanjut melalui whatsapp. Kan kita sudah bertukar nomor telepon. hehehe

Hello world!

Tiga perempat. Karena yang satu itu hanya milik-Nya yang hanya satu.

Ketika masa berganti sementara musim pun beralih. Musim kemarau dan musim hujan tak lagi bisa dibedakan berdasarkan periode bulan seperti pelajaran sewaktu sekolah dasar (SD) dulu. Di bulan Maret kondisi sedang peralihan menuju kemarau, dengan intensitas hujan yang masih cukup tinggi. Tapi tak menghentikan minat dan niat rombongan kala itu untuk mendaki gunung. Gunung Prau di sekitaran Wonosobo, Jawa tengah.

Agenda melancong menyapa gunung yang sedikit terencana dan cukup banyak dadakan. Kami bersembilan dengan personil yang bisa ikut saja. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Posisi start perjalanan dimulai dari kota Semarang yang akan dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan sepeda motor menuju daerah Wonosobo. Karena bersembilan akan ada yang berkendara sendirian dari lima motor yang berangkat.
Berkumpulah rombongan yang bersembilan itu. Kami adalah Dias,Ius, Kun, Burhan, Andeng,Bima, Bela dan adik laki – lakinya, Fachri kalau tidak salah namanya. Rombongan kesembilanan dengan seorang srikandi yang memesona.

Hari itu aku lupa tepat harinya, tapi yang pasti hari kedua pendakian kami, saat kembali turun gunung itu adalah hari dimana adik laki-laki Bela akan ada ujian disekolahnya. Ya, anak laki – laki termuda di rombongan itu masih kelas 2 SMP dan akan mengikuti ujian tengah semester di sekolahnya. Hari dimana ia sedang melakukan perjalanan pulang dari pendakian pertamanya pada paku – paku bumi yang Tuhan ciptakan.

Bukan perkara yang instan dan juga tidak terlalu rumit untuk keberangkatan Fachri mengikuti pendakian pertamaya itu. Ajakan yang menggiurkan dari Kakak Srikandinya itu membebaskan tanggungan ujiannya esok hari. Terlebih Kakak yang begitu ngayom dan membanggakan adiknya ini meng-guaranted-kan dirinya untuk memberikan dukungan demi mendapatkan ijin dari orang tuanya, orang tua mereka berdua. Dengan beberpa pertimbangan, orang tua mereka mengijinkan Bela beserta adiknya Fachri yang akan mengikuti ujian, untuk mengkuti pendakian gunung Prau. Mengijinkan untuk membolos.

Kala itu merupakan pendakian pertamaku bersama Srikandi yang membawa serta adik laki – lakinya ini. Kami sampai dipuncak tengah malam karena posisi start kami sudah cukup larut. Tiga tenda kami siapkan. Dua tenda berisikan masing – masing 4 orang dan satu tenda untuk Srikandi.

Cahaya merah kekuning – kuningan sudah mulai nampak dan cukup menyilaukan mata untuk segera beranjak keluar dari dalam tenda. Bela, si Srikandi ini sudah segar berdiri tepat di depan tenda adik laki – lakinya. Dia membangunkan adiknya untuk menikmati mentari pagi yang masih malu – malu di bawah horizon di pendakian pertamanya. Dan tujuan sebenarnya, membangunkannya untuk segera melaksanakan solat subuh.

Mbak emang ngajari kamu mbolos ujian, mbolos sekolah, tapi Mbak gak ngajari kamu buat gak solat gara-gara naik gunung !, ujarnya pada adik laki – lakinya

Banyak memang orang yang terkadang melupakan apa yang seharusnya dilakukan dengan mengalasankan berbagai kondisi yang ada. Namun tak sedikit pula orang yang begitu sadar akan pelaksanaan kewajibannya terhadap Tuhan yang telah menciptakan paku – paku besar untuk mereka jalani hingga puncak tertingginya. Dan seperti itulah makna yang nantinya akan didapatkan dari setiap perjalanan bertafakur dengan alam semesta.

Lelaki paling muda dalam rombongan itu pun hanya terdiam dengan nasihat dari Kakak tercintanya. Sesegeranya pula Ia beranjak melakukan Tayamum untuk membersihkan diri dari hadast kecil dan melaksanakan solat subuhnya./ad