5 Menit dari Bali, Waktu Itu.

Yah ketinggalan lagi, sudah kelewat bulan Oktobernya.

Anggap saja hari ini masih di bulan Oktober, seperti itu. Hari dimana aku bertemu dengan seorang, dia laki-laki. Dan hari itu merupakan kali pertama aku bertemu dengannya. Memang tak lama pertemuan kami, hanya berkisar lima menit. Semalam kami berlalu dalam pesawat yang sama dari Bali pukul 19.10 dan sampai di Surabaya 19.15 waktu setempat. Namun selama lima menit itu kami sempat bertukar nomer telepon masing – masing.

Sebelum penerbangan malam itu, aku seperti biasa meluangkan bawaan dan menyisihkan tempat untuk membawa buku. Buku yang biasa menemani aku saat di pesawat, sendirian – meski sebenarnya ramai ada lebih dari 160 orang di dalamnya. Seperti penerbangan ku dari Surabaya dengan tujuan Bali. Selama perjalanan tersebut aku tidak terganggu dan juga tidak tidur seperti biasanya. Tempat duduk ku yang berada di belakang jeda satu kursi dari pintu darurat yang ada di tengah. Kalau tidak salah aku duduk di kursi nomor 34M. Untuk perjalanan yang tidak terburu – buru aku biasa memilih tempat duduk yang berada dekat jendela. Memandang langit dari bawah saja sangat kusuka, apalagi bisa memandangnya lebih tinggi lagi. Aku suka sekali.

Sebelum pilot meminta mbak-mbak flight attendant yang kurang aku perhatikan karena pramugaranya udah berumur, menginformasikan kembali kepada penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman, membiarkan penutup jendela tetap terbuka dan juga membiarkan meja portabel untuk menempatkan makan dan minum pada tempatnya dan memosisikan sandaran duduk pada posisi operasionalnya, aku sudah menyelesaikan buku tersebut. Tumben, tak biasanya. Dan selamat datang di Surabaya rek, waktu itu.

Buku itu berjudul Critical Eleven, karya luar biasa dari penulis yang memang tidak biasa, Ika Natassa. Dari buku itu aku baru tahu, bahwa saat bertransportasi menggunakan pesawat terbang, kita akan melewati sebelas menit waktu kritis yaitu 3 menit saat take off dan 8 menit sisanya saat landing. Karena diwaktu – waktu itu peristiwa kecelakaan pesawat sering terjadi.

Dan penerbangan semalam menjadi pembuktian. Saat take off berlangsung, dimana cahaya lampu penerangan mulai diredupkan dan para pembaca mulai menghidupkan lampu baca yang ada di atasnya sebagai salah satu prosedur saat pesawat akan memulai terbang. Aku sudah menyiapkan satu buku lagi untuk kubaca, tapi kututup. Kali ini aku memandangi awal mula jarum jam bergerak bertepatan dengan akselerasi pesawat untuk terbang. Kupastikan jarum jam itu hingga pesawat pada posisi yang stabil dimana lampu penerangan di dalam pesawat kembali dinyalakan dan tanda safety belt sudah dimatikan. Dan memang dikisaran 3 menit. Kalian bisa coba sendiri nanti.

Laki – laki itu menyapaku, dia menggunakan buku yang sedang kubaca sebagai bahan untuk memulai obrolan kecil denganku. Dan aku bukanlah perempuan yang menutup diri.

“haiii,,,”, sapanya dan terasa canggung, “J.K Rowling?”, lanjutnya.
“ohhh”, aku juga terkejut, “oh yaa, nama aliasnya, Roberth Galbraith, Career of Evil”, lanjutku sehingga terlihat pembaca buku beneran yang punya banyak referensi.
“kamu tahu juga?”, tungkasku
“sedikit, kawanku pernah bawa buku itu, tiga seri kan?”jawabnya yang mulai nampak tidak canggung lagi
“iya, hehe”
“aku Dwi”, sembari dia mengulurkan tangannya sebagai simbol perkenalan dan kubalas juga dengan uluran tangan dan kami saling mengguncangkan tangan dengan senyum kecil mengembang dan sedikit kernyitan di jidat.

Perkenalan ringan itu berlanjut hingga obrolan-obrolan yang ringan juga. Buku yang tadinya sudah kusiapkan untuk mengatasi kesendirian di dalam pesawat, buku Career of Evil karya dari Roberth Galbraith yang berkisah tentang seorang detektif yang dikirimi sebuah paket dan ternyata berisi sebuah potongan tungkai wanita muda, pun kuselipkan saja di saku tempat duduk dimana ada majalah Colours disana, inflight magazine milik Garuda. Aku harus meladeni obrolan dengan teman laki-laki yang baru kukenal itu.

Perbincangan kami sempat jeda bersamaan dengan berhentinya sepasang pramugari yang membawa meja dorong berisikan aneka minuman dan lunch box berhenti tepat di sisi lorong tempat kami duduk. Salah seorang pramugari yang di sisi belakang mengulurkan lunch box kepada Dwi setelah terlebih dahulu melayani penumpang tepat disebelahnya dan dia memberikan salah satunya untuk ku. Meja tempat meletakan makan sudah kubuka begitu juga yang berada di hadapan Dwi, aku lepaskan juga pengaitnya.

Aku memesan susu putih setelah pramugari yang sama memberikan lunch box  menawariku beberapa pilihan minuman yang ada. Dan juga air mineral dengan sedikit es. Dwi memesan kopi kepada si pramugari segera setelah aku menerima segelas susu putih. “aku suka kopi”, katanya lirih dengan memandangku. Aku diam sejenak, terpaku, agak sedikit melayang pikiranku dan kucoba menarik kembali sisi astral yang seperti akan keluar dari ragaku. Aku kembali, meresponya dengan senyum kecil, menggigitkan geraham depan bagian depan dan mengangguk kecil. “siapa yang nanya” pikirku sekilas. haha

Ternyata dia merendah tentang buku yang katanya milik temannya. Dia memliki banyak koleksi buku yang selalu ditargetkan untuk dibeli setiap bulannya yang otomatis harus dia selesaikan untuk dibaca. Meskipun sampai sekarang dia masih hutang banyak buku yang belum diselesaikan. Loh, ternyata obrolanku cukup jauh juga. Tak biasanya aku menyempatkan waktu untuk mengisi obrolan sejauh itu, dan laki – laki ini adalah orang yang baru saja aku kenal.

Kemudian suara dari pilot sejenak menghentikan obrolan kami, tanda sabuk pengaman sudah menyala kembali, para pramugari baik yang bertugas di bagian depan juga belakang kembali lalu lalang mengecek kondisi penumpang, posisi tempat duduk, penutup jendela dan juga meja tempat makan serta memastikan peralatan entertainment sudah mulai dimatikan. Aku pun mengajaknya memandang jam tangan masing – masing yang kami kenakan, untuk memastikan 8 menit kritis kedua saat landing sebelum akhirnya mengakhiri obrolan kami semalam. Dan berlanjut melalui whatsapp. Kan kita sudah bertukar nomor telepon. hehehe

Hello world!

Tiga perempat. Karena yang satu itu hanya milik-Nya yang hanya satu.

Ketika masa berganti sementara musim pun beralih. Musim kemarau dan musim hujan tak lagi bisa dibedakan berdasarkan periode bulan seperti pelajaran sewaktu sekolah dasar (SD) dulu. Di bulan Maret kondisi sedang peralihan menuju kemarau, dengan intensitas hujan yang masih cukup tinggi. Tapi tak menghentikan minat dan niat rombongan kala itu untuk mendaki gunung. Gunung Prau di sekitaran Wonosobo, Jawa tengah.

Agenda melancong menyapa gunung yang sedikit terencana dan cukup banyak dadakan. Kami bersembilan dengan personil yang bisa ikut saja. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Posisi start perjalanan dimulai dari kota Semarang yang akan dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan sepeda motor menuju daerah Wonosobo. Karena bersembilan akan ada yang berkendara sendirian dari lima motor yang berangkat.
Berkumpulah rombongan yang bersembilan itu. Kami adalah Dias,Ius, Kun, Burhan, Andeng,Bima, Bela dan adik laki – lakinya, Fachri kalau tidak salah namanya. Rombongan kesembilanan dengan seorang srikandi yang memesona.

Hari itu aku lupa tepat harinya, tapi yang pasti hari kedua pendakian kami, saat kembali turun gunung itu adalah hari dimana adik laki-laki Bela akan ada ujian disekolahnya. Ya, anak laki – laki termuda di rombongan itu masih kelas 2 SMP dan akan mengikuti ujian tengah semester di sekolahnya. Hari dimana ia sedang melakukan perjalanan pulang dari pendakian pertamanya pada paku – paku bumi yang Tuhan ciptakan.

Bukan perkara yang instan dan juga tidak terlalu rumit untuk keberangkatan Fachri mengikuti pendakian pertamaya itu. Ajakan yang menggiurkan dari Kakak Srikandinya itu membebaskan tanggungan ujiannya esok hari. Terlebih Kakak yang begitu ngayom dan membanggakan adiknya ini meng-guaranted-kan dirinya untuk memberikan dukungan demi mendapatkan ijin dari orang tuanya, orang tua mereka berdua. Dengan beberpa pertimbangan, orang tua mereka mengijinkan Bela beserta adiknya Fachri yang akan mengikuti ujian, untuk mengkuti pendakian gunung Prau. Mengijinkan untuk membolos.

Kala itu merupakan pendakian pertamaku bersama Srikandi yang membawa serta adik laki – lakinya ini. Kami sampai dipuncak tengah malam karena posisi start kami sudah cukup larut. Tiga tenda kami siapkan. Dua tenda berisikan masing – masing 4 orang dan satu tenda untuk Srikandi.

Cahaya merah kekuning – kuningan sudah mulai nampak dan cukup menyilaukan mata untuk segera beranjak keluar dari dalam tenda. Bela, si Srikandi ini sudah segar berdiri tepat di depan tenda adik laki – lakinya. Dia membangunkan adiknya untuk menikmati mentari pagi yang masih malu – malu di bawah horizon di pendakian pertamanya. Dan tujuan sebenarnya, membangunkannya untuk segera melaksanakan solat subuh.

Mbak emang ngajari kamu mbolos ujian, mbolos sekolah, tapi Mbak gak ngajari kamu buat gak solat gara-gara naik gunung !, ujarnya pada adik laki – lakinya

Banyak memang orang yang terkadang melupakan apa yang seharusnya dilakukan dengan mengalasankan berbagai kondisi yang ada. Namun tak sedikit pula orang yang begitu sadar akan pelaksanaan kewajibannya terhadap Tuhan yang telah menciptakan paku – paku besar untuk mereka jalani hingga puncak tertingginya. Dan seperti itulah makna yang nantinya akan didapatkan dari setiap perjalanan bertafakur dengan alam semesta.

Lelaki paling muda dalam rombongan itu pun hanya terdiam dengan nasihat dari Kakak tercintanya. Sesegeranya pula Ia beranjak melakukan Tayamum untuk membersihkan diri dari hadast kecil dan melaksanakan solat subuhnya./ad